Selasa, 24 Juli 2012

Cerpen You Are The Apple of My Eye


Dion, Fajar, Rio, Galih dan aku terbentuk suatu persahabatan yang erat. Aku adalah Putra, kami selalu bersama setiap harinya. Kami duduk di bangku SMA kelas 11 tepatnya di SMA 10 Tulungagung. Hobi kami berbeda-beda, ada Dion yang hobinya otak-atik computer, Fajar bela diri, Rio Basket, Galih kolektor, dan aku santai. Diantara teman-temanku akulah yang menganggap sekolah itu bagaikan neraka. Aku sama sekali tidak menyukai yang namanya belajar dan setiap kali ada ulangan nilaikulah yang paling rendah dikelas.
Walaupun kami berbeda-beda tetapi kami punya satu persamaan yaitu menyukai seorang gadis dikelas, Tika namanya. Tika adalah murid teladan dikelas kami dan dia selalu mendapat peringkat pertama. Beda denganku yang tidak pernah belajar dan selalu peringkat terendah. Hari itu aku bersama Fajar dan Rio membuat onar dikelas. Tempat dudukku dipindah menjadi didepan Tika agar dia dapat mengawasiku dan membantuku belajar. “Menyebalkan”. Itu kataku. “Kau pikir aku suka kau duduk didepanku, membuatku repot saja”. Jawab Tika. “Kalau tidak ingin repot jangan mengurusiku”. “hhhhhhhh kau ini kaalu bukan Pak guru yang menyuruhku mengawasimu aku tidak akan mau”. Kami berdebat masalah tersebut.
Suatu hari pada saat pelajaran Bahasa Inggris Tika tidak membawa bukunya. Guru bahasa Inggris sangat killer, Bu Maria namanya, siapapun yang membuatnya marah pasti sengsara.”Siapa yang tidak membawa buku?” Tanya BU Maria. Tika kebingungan karena tidak membawa buku. Kemudian aku memberikan bukuku padanya dan aku berdiri. Mengangkat kursi sambil duduk dan melompat-lompat itulah hukumanku.
“Kenapa kamu memberikan bukumu padaku”. “Bukan urusanmu”. Kemudian aku pergi. Sejak saat itu Tika membantuku dalam belajar. Dia memberikan soal yang dibuatnya sendiri. “Ini kerjakan soal ini besok arus sudah dapat 50 soal”. “Hanya 50 tidak sulit untukku”. Dengan sombong aku meremehkannya. “Kenapa kamu ini tidak pernah belajar, memangnya kamu bisa sukses jika tidak belajar”. “Hei,,sebenarnya aku ini pandai, hanya saja aku tidak menunjukkannya. Kau akan kusalip jika aku belajar”. “Kalau begitu kita taruhan”. Tika mengajakku taruhan rambut. Jika nilaiku diatasnya aku menyuruh dia untuk mengkuncrit rambutnya selama satu bulan disekolah. Dan sebaliknya jika nilaiku dibawahnya aku harus menggundul rambutku. Aku terus belajar giat agar tidak malu didepan Tika. Dengan bantuannya yang selalu memberiku soal dan menyuruhku mengerjakannya nilaiku selalu meningkat.
Hasil nilaipun telah diumumkan. Teman-temanku heran aku dapat memperoleh nilai 80 dalam ulangan matematika karena biasanya aku selalu mendapat nilai dibawah 50. Tetapi nilaiku tidak cukup untuk bias diatas nilai Tika. Dengan terpaksa aku mencukur gundul rambutku ini. Tetapi tidakku sangka Tika yang menang taruhan dia mengkuncrit rambutnya disekolah. Kami berlima kagum melihatnya yang lewat didepan kami. Tika sungguh cantik saat dia mengkuncrit rambutnya. Aku tidak tahu mengapa dia mengkuncrit rambutnya padahal dia menang taruhan.
Hari demi hari telah berlalu. Ujian Akhir Sekolah telah kami lewati dengan baik. Tiba saatnya kami menentukan pilihan kami untuk bekerja atau melanjutkan kuliah. Sebelum kami, Dion, Fajar, Rio, Galih, aku dan Tika berpisah kami semua mengatakan tentang impian kami masing-masing. Kami semua melanjutkan ke perguruan tinggi yang berbeda-beda. Dan kami berpisah disebuah stasiun dengan tujuan masing-masing.
Diantara kami berlima akulah yang paling dekat dengan Tika. Tika tahu kalau aku menyukainya, aku juga pernah mengungkapkan perasaanku padanya, tetapi aku tidak mau mengetahui jawaban darinya karena aku takut dia tidak menyukaiku dan kedekatan kami trganggu. Aku tidak tahu kalau dia sebenarnya juga suka denganku. Disaat itu kami sedang jalan berdua. Saat itu kami menulis disebuah balon udara.”Apa yang kamu tulis?”. Tanya Tika padaku.”Aku menulis aku menyukaimu dan ingin menjadi pacarmu”.”Apa kamu mau tahu apa yang ku tulis? Ini adalah jawabanku”.”Tidak. Aku tidak mau melihat jawabanmu, karena jika kau tidak suka denganku aku tidak mau semua ini berakhir disini”. Aku tidak tahu kalau yang dia tulis adalah “Aku mau”. Dan setelah itu kami jarang sekali berkomunikasi.
Hari demi hari kami lewati. Diantara kami semua aku, Dion, Fajar, Rio, dan Galih tidak ada yang pernah jadian dengan Tika padahal kami semua menyukainya, tetapi tidak merusak pertemanan kami. Tika pun setelah lulus kuliah dia menikah dengan seorang pengusaha bernama Tomi. Teman-temanku semua sudah mendapatkan pekerjaan. Dan mereka hidup bahagia bersama keluarganya. Akupun juga mendapatkan pekerjaan sebagai penulis. Hidup bahagia bersama keluarga. Dan itulah kisah kami yang berakhir dengan kebahagiaan kami masing-masing.

2 komentar:

  1. This post will help the internet users for building up new blog or
    even a blog from start to end.

    my homepage ... raspberry ketone

    BalasHapus

Ada kesalahan di dalam gadget ini